Ritual Membawa Nikmat

December 1st, 20110 Comments »


Kisah ini terjadi sepuluh tahun silam, ketika aku baru kelas satu SMU, semua itu terjadi karena usaha bisnis ibu tiriku sepeninggalan almarhum ayahku yang semakin menurun. Sementara aku anak satu-satunya belum bisa berbuat banyak untuk membantu beban ibu tiriku itu.Tibalah suatu ketika ibu tiriku mengajakku ke daerah Jawa Tengah dimana konon katanya disana ada sebuah kuburan yang memiliki kekuatan, dan apabila diyakini akan mengabulkan segala keinginan kita dengan syarat bersedia melaksanakan semedi serta segala persyaratan lainnya.

Tibalah aku dan ibu tiriku di daerah tersebut, terbayang rasa ngeri seperti yang biasa kulihat di tayangan-tayangan televisi dan film-film horror. Namun ibu tiriku memberi tahuku agar bersikap tenang, dan selalu ingat tujuan kami kesana, memang untuk merubah nasib.Sesampainya disana kami disambut oleh seorang laki-laki yang bertubuh agak tinggi besar, yang dikenal sebagai penunggu gunung tersebut. “Tentu orang sakti nih”pikirku dalam hati.

Aku dan ibu tiriku diarahkan menuju sebuah rumah kecil menyerupai gubuk ditengah hutan, saat itu hari sudah senja, sehingga suasana mulai sepi dan hanya ada pelita kecil untuk penerangan di rumah itu.Kami pun istirahat di gubuk itu sambil menunggu Mang Karsim si penunggu kuburan yang memandu kami tadi.

Tak seberapa lama Mang Karsim pun datang, lalu dia menjelaskan syarat yang harus kami penuhi, memang dari pengalaman yang sudah-sudah banyak yang sukses sepulang semedi di sini asalkan bersedia memenuhi segala persyaratan yang dikehendaki oleh kekuatan gaib disitu dengan sepenuh hati.

Tampak ibu tiriku berbincang-bincang dengan Mang Karsim dalam bahasa daerah, intinya kami harus berada di gubuk itu selama lima hari sambil melaksanakan semedi di kuburan yang ada di puncak gunung itu. Menjelang jam dua belas aku dan ibu tiriku bersiap-siap menuju ke kuburan keramat itu dengan membawa sesajen dan sebuah tikar, aku sedikit heran saat itu ibuku mengenakan kain batik putih garis-garis hitam dan baju kebaya, seperti mau ke undangan saja pikirku dalam hati.

Kamipun berangkat menyusuri kegelapan dengan diterangi sebuah lentera kecil. Sesampainya di kuburan, Mang Karsim langsung memimpin ritual khusus di atas kuburan keramat itu. Setelah berlangsung sekitar empat puluh lima menit, Mang Karsim menggelar tikar yang dibawanya, lalu mendekat ke arah kami sambil mengatakan bahwa syarat terakhir sudah bisa dilaksanakan, yaitu aku harus menyetubuhi ibu tiriku diatas tikar itu. Ya ampun kenapa harus seperti itu sih, mana mungkin bisa begitu, pikirku dalam hati. Aku saling menatap dengan ibu tiriku.

“Ya sudahlah….kalau memang itu syaratnya..!” kata ibu tiriku dengan nada pasrah. Mendadak tatapanku jadi kabur sesaat, dan agak limbung rasanya. Kulihat ibu tiriku seperti bukan sosok yang biasanya, aku tidak mengerti kenapa pikiranku jadi berubah seperti itu, saat itu ibu tiriku seperti sosok perempuan yang menggairahkan birahiku. Dalam keadaan seperti setengah sadar ibu tiriku, membisikkan sesuatu padaku.“Kamu nggak usah takut, ikuti saja yang ibu lakukan” ungkapnya dengan nada pelan sambil membaringkan tubuhku di atas tikar itu.

Lalu dia lucuti semua celana dan bajuku, aku diam seperti terkesima, saat ibu tiriku mulai mengusap-usap kontolku, aku mulai merasakan rangsangannya, perlahan-lahan kontolku mulai dikocoknya, akhirnya kontolku ngaceng juga di tangan ibu tiriku. diapun hanya tersenyum melihat kontolku yang dalam sekejap sudah tegang dan keras.

Sungguh tidak pernah kubayangkan sebelumnya, aku diperlakukan seperti itu oleh ibu tiriku.“Punyamu lumayan gede juga ya….”sambil terus menggenggam batang kontolku sambil sesekali mengocoknya. Gila ternyata nikmat sekali rasanya, tangan ibu tiriku, ingin sekali rasanya meremas-remas seluruh lekuk tubuhnya, tapi mana mungkin pikirku.

Dia pun mulai memasukan seluruh batang kontolku ke dalam mulutnya, sampai mentok. “Aaakh…buuu…saya geli….!!” jawabku spontan.“Iya…ibu tahu…baru kali ini kamu merasakannya..!” ungkap ibu tiriku, yang terus menjilati batang kontolku berulang-ulang, sambil diselingi dengan kocokan, sampai-sampai aku kelojotan menahan rasa geli bercampur nikmat.

Tanpa kusadari ternyata kejadian itu tak luput dari pemantauan Mang Karsim, kira-kira dari jarak du meter Mang Karsim memperhatikan gerakan ibu tiriku yang tengah mengulum batang kontolku, lalu di memberi kode kepada ibu tiriku agar segera memulai persetubuhannya denganku. Ibu tiriku perlahan melepas kancing baju kebayanya dan melepas bra yang membungkus payudaranya. Woow bulat, mulus dan masih kencang, mungkin karena ibu tiriku cukup lama menjanda, sehingga payudaranya tidak pernah tersentuh tangan laki-laki makanya terlihat masih utuh dan montok sekali.

Aku semakin bergairah, dan sangat terangsang ketika ibu tiriku mulai melonggarkan lilitan kain batik putih yang dipakainya, dan melilitkannya kembali secara asal-asalan di pinggangnya, anggap saja memberi keleluasaan agar dapat menyingkapkannya dengan mudah. Ternyata benar dugaanku, ibu tiriku langsung terlentang dengan posisi kedua pahanya yang sudah mengangkang.

“Ayo naik kesini…!”ungkapnya, sambil mengarahkan tangannya agar aku segera menuju ke tengah-tengah selangkangannya itu.
“Gimana bu…saya nggak ngerti..?”ungkapku bingung.
“Ya uda sini…ibu yang masukin anumu ke punya ibu..!” ungkapnya dengan manja.
“Blepp…plepp..cluppp..” dalam sekejap saja batang kontolku terbenam seluruhnya ke dalam memek ibu tiriku yang masih sempit dan empuk itu.

“Aaaakhh…..aaahh….ssshh…ooouh… ibuuu…!”aku mendesis merasakan nikmat dan hangatnya lobang memek ibu tiriku.
“Nggak apa-apa kan…..?”ungkap ibu tiriku sambil mengusap-usap punggungku.
“Ya uda jangan ragu-ragu….terus teken yang dalam..!”kata ibu tiriku mengajari aku.

Akupun mulai menggenjot kontolku keluar masuk lobang memek ibu tiriku, lama-lama aku jadi terbiasa dan bisa menikmatinya. Luar biasa sekali nikmatnya pikirku. Saat itu tak terpikir lagi kalau yang sedang kusetubuhi itu adalah ibu tiriku, yang pernah juga ditiduri oleh ayahku.

Sebelumnya tidak pernah terlintas dipikiranku untuk bersetubuh dengan ibu tiriku, walaupun beberapa tahun silam sering kulihat ayahku saat lagi mencumbu ibu tiriku ini. Setelah kami tinggal di rumah berdua pun tidak pernah terlintas pikiran kotorku terhadap ibu tiriku, sekalipun dalam kesehariannya di rumah, ibu tiriku selalu berpakaian seksi, seperti mengenakan daster yang sangat pendek, bahkan tidak jarang ibu tiriku tidur bersamaku dengan dasternya yang tersingkap kemana-mana sehingga dari paha sampai pantatnya terlihat jelas tanpa sehelai benangpun menutupinya, namun hal tersebut tidak pernah mengganggu pikiranku, apalagi sampai membuatku ingin menyetubuhinya.

Tapi kali ini aku benar-benar terangsang sekali, bahkan aku tengah menyetubuhinya dengan penuh nafsu. Mang Karim pun ikut terbelalak matanya sambil berkali-kali terlihat menelan ludahnya, saat ibu tiriku berganti posisi menungging sambil menyingkapkan kain batik yang menutupi bagian pantatnya, sehingga terlihat jelas dua bulatan pantatnya yang menonjol, padat, putih, mulus. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera kuelus-elus batang kontolku lalu kembali kuarahkan ke lobang memek ibu tiriku dari belakang.

“Aaah…ssshhh…ooohh…ibuuu…nikma t sekaliii..buu..!” ungkapku sambil terus meremas-remas bulatan pantat ibu tiriku yang tengah menungging kearahku. Ibu tiriku memaju mundurkan pantatnya sehingga terlihat kontolku seperti sedang diasah dalam memek ibu tiriku.

Aku heran juga melihat Mang Karim yang kelihatan gelisah sambil mengelus-elus kontolnya sendiri, rupanya di terangsang melihat adeganku tadi. Dia pun mendekatkan posisinya ke sebelahku, nampaknya dia penasaran ingin melihat dari dekat adeganku dan mulusnya pantat ibu tiriku yang lagi ku remas-remas dan kugenjot dengan kontolku itu. Tiba-tiba saja Mang Karim pun menurunkan celana kolornya, lalu dia keluarkan kontolnya yang sudah tegang mengacung ke atas, sorot matanya terus tertuju ke pantat ibu tiriku yang lagi ku genjot itu.

”Saya nggak tahan juga Mas….!”katanya kepadaku, sambil mengocok kontolnya yang sudah ngaceng.

Kulihat ibu tiriku yang lagi nungging menoleh kebelakang sambil tersenyum geli melihat tingkah Mang Karim yang ikut-ikutan terangsang oleh tubuh montoknya.

Kukembalikan segera konsentrasiku pada tubuh ibu tiriku yang sedang kutunggangi dengan penuh nafsu itu. Genjotanku semakin kupercepat, aku tidak tahan seakan batang kontolku lagi diremas-remas oleh dinding memek ibu tiriku, seperti dipijit-pijit, rasa geli bercampur nikmat, apalagi saat ibu tiriku memainkan lobang memeknya menjepit batang kontolku saat kubenamkan seluruhnya ke dalam.

“Aaaah….oouuw…iii..buuu…saa..y a…nggak tahaan…buuu…!”aku mengerang dengan penuh nikmat.
“Iyaaa….ayo terusin..sayang…sampai keluar ya…!” ungkap ibu tiriku terbata-bata karena hentakanku pada pantatnya.

Aku mulai merasakan dorongan yang kuat yang hendak meletus, air maniku seakan sudah di ujung kontolku, yang akan segera memuntahkannya ke dalam lobang memek ibu tiriku.Tiba-tiba tubuhku terasa gemetar, darahku berdesir dengan cepat diseluruh tubuhku, seakan menahan puncak birahi yang luar biasa nikmatnya, seiring dorongan air maniku yang akan ku*kan keluar dari batang kontolku.

“Aaaahh….ooouuhh…ibuuu…crott…c rottt..crottt…
oouuuww..!!” akhirnya air maniku muncrat, menyemprot keseluruh dinding lobang memek ibu tiriku, sungguh betapa nikmatnya menyetubuhi ibu tiriku. Tidak pernah terbayang olehku sebelumnya, kalau tubuh ibu tiriku yang sehari-hari didepan mataku, ternyata bisa memberikan kenikmatan yang luar biasa terhadapku.

Aku terkulai lemas diatas tikar, sementara ibu tiriku yang masih dalam posisi nungging, terlihat membersihkan sisa air maniku yang berceceran di atas memeknya dengan menggunakan kain batiknya, dia pun tersenyum puas atas kebolehanku tadi, sambil mengusap-usapkan kain batik tadi ke batang kontolku yang mulai kembali ke ukuran semula.

Tinggallah Mang Karsim saat itu yang terus mengocok kontolnya sendiri. Melihat hal itu ibu tiriku segera bangun dan duduk di atas tikar, lalu diraihnya batang kontol Mang Karsim yang sedang tegang-tegangnya itu. Aku jadi tambah bingung, kok ibu tiriku mau megangin kontol Mang Karsim, mungkin sekalian kotor barangkali, atau sebagai bonus saja buat dia yang sudah memandu kami, pikirku dalam hati.

“Aduh bu….enak tenan…bu..!” Mang Karsim berguman sendiri. Karena sudah tidak tahan sejak tadi melihat kemolekan dan kemulusan tubuh ibu tiriku, Mang Karsim bagaikan ketiban durian runtuh, seumur-umur baginya tidak pernah melihat tubuh semulus itu. Dia pun mengerang sekuatnya berusaha menahan air maninya agar tidak segera keluar, dia ingin lebih lama kontolnya dikocok oleh ibu tiriku, maklumlah bagi dia kesempatan seperti ini belum tentu dia dapatkan sepuluh tahun sekali.

Namun apa daya air mani Mang Karsim tak bisa dibendung lagi, ibu tiriku memang sangat paham sekali bagaimana cara memuncratkannya dengan cepat, melalui sedikit sentuhan-sentuhan rahasia di bagian tertentu pada batang kontol Mang Karsim, akhirnya air mani Mang Karsim tumpah ruah di kain batik putih yang dipakai ibu tiriku, bahkan saking bernafsunya air mani Mang Karsim sebagian menyemprot di payudara ibu tiriku, air mani Mang Karsim terlihat kental sekali, mungkin karena sudah sepeluh tahun dia menduda.

Tidak lama kami pun bergegas kembali ke gubuk untuk istirahat, sementara Mang Karim malam itu dengan setia menunggui kami sampai tertidur di emper gubuk. Sementara aku berada satu kamar bersama ibu tiriku dalam gubuk itu, tentu atas permintaan dari ibu tiriku sendiri agar aku menemaninya. Malam ibu tiriku bertanya padaku bagaimana perasaanku, sambil menghiburku agar tidak kaget atas kejadian di kuburan keramat itu.

“Saya takut bu….sa..ya…bi…ngung…” sambil terbata-bata.
“Iya ibu tahu…ibu ngerti…tapi kamu hebat…” ibu tiriku memotong pembicaraanku.
“Maksud ibu hebat gimana…?” ungkapku dengan penuh rasa heran.
“Itu lho…. ibu baru lihat…ternyata punyamu besar sekali..” ungkap ibu tiriku sambil berbisik kepadaku. Aku diam saja mendengar pernyataan itu.

“Ibu jadi tertarik aja melihatnya tadi….sampe sekarang terbayang terus…!”kenangnya.
“Iya bu, saya juga baru tadi aja melihat tubuh ibu dengan jelas…!” ungkapku dengan malu-malu.
“Kamu suka nggak…seperti tadi dengan ibu…?” ungkap ibu tiriku sambil berbaring menghadap ke arahku.
“Hhmm…iya..iya..bu..saya suka.., enak bu..saya baru merasakan begitu.!”

“Kalau kamu mau, ibu tidak keberatan kamu setubuhi ibu seperti tadi kapan aja kamu mau, asal jangan ada orang lain yang tahu..ya…!” tegasnya, sambil kembali meraih kontolku yang sudah mengecil, lalu di usap-usapnya dengan lembut.
“Kamu suka nggak ibu ginikan…?” ungkapnya dengan nada yang genit, sambil sesekali batang kontolku dikocoknya.
“I..ya..bu…ssshhh.. ge..li..buu..!” ungkapku terbata-bata.

Ibu tiriku pun semakin jadi memainkan kontolku, dikulumnya dalam-dalam, lalu dijilat-jilat ujungnya dengan gemas.
“Aaahh…oouww…ibuuu…” aku mulai merintih menahan geli bercampur nikmat. Dalam sekejap kontolku sudah mengacung tegang keatas, melihat hal itu ibu tiriku semakin bergairah melumat habis batang kontolku mulai dari bijinya sampai ke ujung, terus berulang-ulang.

“Kamu juga boleh pegang-pegang memek ibu…!” ungkapnya sambil menarik tanganku dan menempelkannya di atas lobang memeknya persis. Rupanya ibu tiriku sudah sejak tadi terangsang sewaktu melihat kontolku mulai ngaceng, terlihat dari memeknya sudah terasa basah. Tanganku yang satu lagi meraba payudara ibu tiriku yang begitu menggemaskan. Kain batik putih yang dipakainya pun sudah terlihat acak-acakan karena rabaan dan remasanku yang mulai berani ke seluruh bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan itu.

“Ayo masukin…..ibu udah nggak tahan nih…!” ungkapnya dengan nakal.
Tanpa pikir panjang lagi langsung kubenamkan seluruh batang kontolku ke lobang memek ibu tiriku itu.
“Aaaah….oohhh…oooh…!!” aku mulai merancu tidak karuan saking luar biasa nikmatnya. Aku langsung menggenjot batang kontolku keluar masuk di dalam lobang memek ibu tiriku itu.

Ibu tiriku terlihat begitu seksi sekali dalam keadaan setengah bugil seperti itu. Kain batiknya melorot ketarik oleh genjotanku. Tak lama kubalikan tubuh ibu tiriku agar posisinya membelakangiku. Woow pantatnya yang montok dan gempal terlihat menungging persis di depan kontolku yang sudah sangat tegang, langsung saja kusodokkan ke lubang syurga ibu tiriku.

“Aaw…aaw….ouww…nikmat sekaliii…!!” ibu tiriku merintih sambil menahan hentakan batang kontolku yang makin dalam. Tiba-tiba pantat ibu tiriku mulai terlihat gemetar seakan sudah mendekati orgasme.

“Aaaaw….ibu mau keluaaar….creekk crerkk creek” air mani ibu tiriku muncrat sewaktu kontolku menusuk-nusuk memeknya yang empuk dan padat itu.

Aku terus menggenjotnya, gerakanku semakin cepat, batang kontolku pun terlihat semakin gencar menghunjam lobang memek ibu tiriku. Ibu tiriku memang pandai, dia putar-putar pantatnya bergoyang berlawanan dengan genjotanku, sampai akhirnya aku merasa seperti di pilin-pilin nggak karuan.

“Aaaaw…oouhh….crottt..crottt…c rottt.. uuhh..!!” air maniku tiba-tiba saja muncrat tak tertahankan dalam lobang memek ibu tiriku. Gila aku benar-benar nggak kuat lagi menahannya, memang luar biasa permainan ibu tiriku, tidak kuduga sampai seperti ini kenikmatan yang tersimpan dalam tubuh montoknya, ungkapku dalam hati.

Puas sekali rasanya, akupun kembali terkulai lemas disebelah tubuh ibu tiriku, begitu gencarnya permainan tadi, tanpa kusadari kain batik panjang ibu tiriku telah melilit ketat dari kaki sampai kepinggangku, mengikatku jadi satu dengan tubuh ibu tiriku, kami pun terbalut rapat sehingga sulit bergerak, karena dinginnya udara malam di tengah hutan saat itu, akhirnya aku dan ibu tiriku membiarkan tubuh kami dalam keadaan berpelukan seperti itu sampai pagi harinya.

Pada hari ke lima, merupakan puncak acara ritual sebelum kami kembali ke Jakarta, dimana sebelumnya selama empat hari berturut-turut aku dan ibu tiriku tak henti-henntinya melakukan persetubuhan baik siang maupun malamnya, bukan sekedar memenuhi persyaratan ritual kami semata, namun bagiku peritiwa tersebut merupakan sebuah kenikmatan tersendiri yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Anggap saja suatu hal baru yang luar biasa, mengenai siapa lawannya mainku saat itu yang sesungguhnya adalah ibu tiriku sendiri, yang mana ayahku pun pernah menikmati tubuhnya selama bertahun-tahun ya anggap saja kecelakaan. Tapi sungguh aku merasakan suatu kepuasan tersendiri dari petualangan pesugihan itu.

Di gubuk itu ibu tiriku jadi seperti istriku, melayaniku setiap saat, apalagi bersetubuh saat itu bagiku adalah hal baru, yang pasti aku lagi getol-getolnya, akhirnya ibu tiriku jadi bulan-bulanan gairah birahiku hampir setiap jam, bagaimana tidak kalau hampir setiap jam itu pula kontolku ngaceng. Selama di gubuk itu tubuh ibu tiriku hanya terbungkus kain batik panjang sebatas dada sampai lututnya, separuh dari tubuh ibu tiriku yang montok dan mulus itu dibiarkan terbuka tanpa sehelai benang pun yang menutupinya, pemandangan itu setiap saat selalu terlihat di depan mataku, mau nggak mau kontolku ngaceng terus, terpaksalah setiap satu jam sekali ibu tiriku jadi sasaran nafsu birahiku, dan memeknya jadi saluran pembuangan air maniku.

Pokoknya melebihi dari persyaratan yang ditentukan, yang sebenarnya dengan tujuh kali persetubuhan saja sudah cukup. Sedangkan aku dan ibu tiriku sehari semalam bisa sepuluh kali, jadi kalau lima hari berarti aku bersetubuh dengan ibu tiriku sebanyak lima puluh kali. Wah hebat juga ya…

Kini tibalah malam terakhir, atau lebih jelasnya puncak ritual dari pesugihan yang kami tempuh. Saat itu seperti biasa ibu tiriku hanya mengenakan kain panjangnya yang berwarna coklat sebatas dada sampai lututnya, dengan membawa peralatan seperlunya menunggu Mang Karsim di emper gubuk. Tidak lama Mang Karsim pun datang dengan seorang kakek, katanya orang sakti di situ, yang biasa dipanggil eyang kuncen, singkat cerita kami pun berangkat ke tengah hutan, ke kuburan keramat tempat ritual akan dilaksanakan.

Sesampai di sana ritual pun dimulai, dipimpin eyang kuncen tadi, aku dan ibu tiriku ikut bersemedi sambil duduk di atas tikar yang telah disiapkan. Kurang lebih satu jam berlangsungnya pembacaan mantra, si eyang kuncen menyodorkan air putih kepada aku dan ibu tiriku, yang telah dibacakan mantra-mantra olehnya.

Lalu eyang kuncen memberi isyarat agar ibu tiriku duduknya mendekat didepannya, aku pun tidak mengerti apa yang akan dilakukan selanjutnya, suasana saat itu benar-benar sepi, yang terdengar hanya bunyi dedaunan yang tertiup angin. Ibu tiriku dibaringkan di atas tikar tadi dengan posisi terlentang, kulihat eyang kuncen kembali membaca mantra-mantranya, tapi tangannya bergerak menelusuri tubuh ibu tiriku, hampir identik dengan meraba, sementara kain batik panjang yang berwarna coklat masih tetap melekat di tubuh ibu tiriku. Lama kelamaan rabaan tangan si eyang kuncen tadi makin liar, hampir keseluruh bagian tubuh ibu tiriku, tak luput pada bagian-bagian sensitifnya. Aku tetap berusaha tenang menyaksikan adegan itu, tak ketinggalan Mang Karsim pun menyaksikan adegan itu dengan penuh perhatian.

Tapi keadaan jadi agak panas saat rabaan si eyang mengarah ke dalam kain panjang yang menutupi tubuh ibu tiriku, tangannya menelusuri sela-sela kaki ibu tiriku menuju ke selangkangannya, setahuku ibu tiriku tidak memakai celana dalam lagi, berarti rabaan si eyeng itu langsung mengenai memek ibu tiruku. Sepuluh menit sudah si eyang mengobok-obok memek ibu tiriku, sementara tangan yang satunya meraba payudara ibu tiriku sampai ikatan kain panjang yang dipakai oleh ibu tiriku terlepas.

“Ooouh…ooouh…ssshh..!” ibu tiriku mendesis pelah merasakan rangsangan tangan si eyang kuncen itu. Aku jadi ikut-ikutan terangsang melihat ibu tiriku diraba-raba seperti itu. Kontan saja kontolku jadi ngaceng juga gara-gara si eyang itu.

Tapi betapa kagetnya aku ketika si eyang kuncen menurunkan celana kolornya dan mengeluarkan kontolnya yang belum begitu tegang. Lalu dia singkapkan kain panjang ibu tiriku persis yang menutupi bagian sensitifnya, sehingga terbukalah mulai dari selangkangan sampai terlihat dengan jelas memek ibu tiriku yang gempal dan padat.

Si eyang terus mengocok kontolnya, sampai terlihat mulai ngaceng sedikit, lalu diangkatnya kedua paha ibu tiriku sehingga mengangkang di depannya, si eyang kuncen pun mulai mengarahkan ujung kontolnya ke lobang memek ibu tiriku, di gesek-gesekkannya terlebih dahulu batang kontolnya oleh si eyang di sela-sela paha ibu tiriku yang terlihat sangat putih, mulus dan menggairahkan itu, mungkin biar tambah ngaceng, pikirku dalam hati.

Tak berapa lama dia dorong ujung kontolnya sampai terbenam semua ke dalam lobang memek ibu tiriku. Anehnya ibu tiriku tidak protes sedikitpun, seakan-akan dia pasrah atas perlakuan si eyang itu. Tampak si eyang mulai menggenjot kontolnya ke dalam memek ibu tiriku, sialan juga si eyang ini, pikirku dalam hati.

“Ooo…iya…ah..aah..aah..cretts. .cretts..crett..huuaah..!” si eyang mengeluh saking lelahnya telah menyemprotkan air maninya di dalam memek ibu tiriku.

Aku jadi kasihan melihat ibu tiriku dalam posisi tergeletak diatas tikar dengan keadaan setengah telanjang seperti itu, sementara si eyang selesai melampiaskan nafsunya tampak terhuyung-huyung menuju ke bawah pohon untuk buang air kecil. Begitu aku hendak menutupi memek ibu tiriku dengan kain panjangnya yang tengah tersingkap, tiba-tiba Mang Karsim melarangku sambil dia ambil posisi seperti si eyang tadi, persis ditengah-tengah selangkangan ibu tiriku. Tangannya mulai meraba-raba ke memek ibu tiriku, sementara tangan satunya terus mengocok-ngocok batang kontolnya sampe terlihat tegang sekali.

“Blesh…plept…crok..crok..” dalam sekejap saja kontol Mang Karsim sudah terbenam dalam memek ibu tiriku yang sudah basah terlumuri air oleh maninya si eyang sialan tadi. Waduh gimana nanti giliranku, pasti sudah banjir, pikirku dalam hati.

Mang Karsim dengan penuh nafsu terus menggenjot kontolnya ke dalam memek ibu tiriku, tangannya sibuk meraba-raba ke seluruh tubuh ibu tiriku dengan ganasnya.
“Uuuhh…ooow…jangan keras-keras…!” ujar ibu tiriku mulai sadar kalau dirinya sedang diantri oleh orang-orang sialan ini, pikirku.
“Ooouh..ooohh..sshh…aaah..aah. .!” Mang Karsim pun seperti mengigau menahan nikmatnya menyetubuhi ibu tiriku. Hentakan demi hentakan kasar dihunjamkannya ke memek ibu tiriku oleh Mang Karsim. Kelihatannya di menggunakan ilmu aji mumpung, kapan lagi bisa dapat mangsa yang molek dan mulus seperti ibu tiriku ini. Dia puas-puasin aja, apalagi ini malam terakhir aku dan ibu tiriku di kampung ini.

Tidak lama si eyang menghampiri ke arah kami sambil memberi isyarat kepada Mang Karsim agar segera menyudahi persetubuhannya terhadap ibu tiriku. Mang Karsim pun segera menggenjot kontolnya lebih cepat lagi, sampai kain panjang yang dipakai menutupi tubuh ibu tiriku terlepas tidak karuan, kesempatan itu tidak disia-siakan ole Mang Karsim untuk menggerayangi seluruh tubuh ibu tiriku yang sudah hampir terbuka seluruhnya. Tampak payudara ibu tiriku bergoyang dengan keras karena dorongan Mang Karsim yang lagi menggenjot paksa memek ibu tiriku.

“Oooh…ohh…ohh..ohh…crotts…crot ts…crott..uuuhh..!” Mang Karsim nampaknya mengalami orgasme, air maninya dibiarkan menyemprot di dalam lobang memek ibu tiriku. Ampun deh, masa aku harus dapat sisa-sisa dari orang-orang ini, pikirku.

Tapi apa mau dikata kalau memang itu syaratnya, ya apa boleh buat. Mudah-mudahan saja tidak harus sampai kesitu, pikirku. Disatu sisi aku kasihan terhadap ibu tiriku yang sudah terlanjur dating ke kampong ini, di sisi lain aku tidak tega dia disetubuhi orang lain terus yang tidak jelas pula asal usulnya. Ternyata menurut si eyang ritual kami selesai, artinya kami persiapan menuju ke gubuk lagi. Sambil tertatih-tatih ibu tiriku berjalan bersama kami menuju gubuk, lumayan jauh juga jaraknya.

Belum sampai ke gubuk, perjalanan kami dikagetkan dengan segerombolan pemuda yang menghadang kami dengan bersenjatakan golok-golok yang tajam. Kami pun terhenti, tampak dari sekelompok anak-anak muda tersebut mengusir Mang Karsim dan si eyang dengan bahasa daerah yang sama sekali kami tidak memahaminya, mereka berdua pun bergegas meninggalkan aku dan ibu tiriku di tengah-tengah berandalan tadi.

Salah satu dari mereka tersenyum jahat sambil menatap ke tubuh ibu tiriku mulai dari ujung kaki sampai ke kepala. Lalu mereka saling berbisik sesama temannya, akhirnya seorang anak berandalan itu maju dan mengancam ibu tiriku agar melepas kain panjang yang melingkar ditubuhnya, terlihat ibu tiriku mulai gemetar ketakutan. Akhirnya ibu tiriku menuruti keinginan mereka, perlahan-lahan ibutiriku melepas ikatan kain panjang yang dipakainya itu, lalu perlahan-lahan melepasnya hingga kain itu melorot jatuh ke tanah. Anak-anak berandalan tersebut tersenyum kagum melihat kemolekan tubuh ibu tiriku yang montok dan mulus itu.

Lalu satu dari mereka menghampiri kearah ibu tiriku berdiri sambil mengusap-usap pipi ibu tiriku, terus tangannya bergeser ke arah payudara, lantas kedua tangannya meremmas-remas payudara ibu tiriku yang sudah tergantung bebas itu. Satu lagi dari mereka menghampiri ibu tiriku, lalu meremas-remas pantat ibu tiriku dengan penuh nafsu. Aku terdiam dibawah ancaman senjata tajam mereka, sementara kulihat ibu tiriku mulai dibaringkan paksa oleh mereka, sambil digerayangi rame-rame.

Ada yang mulai menurunkan celananya, ada juga yang masih mengocok-ngocok kontolnya, ada juga yang mengsesek-gesekan batang kontolnya di pipi ibu tiriku, bahkan ada juga kulihat yang kontolnya sudah sangat tegang. Terlihat satu orang yang badannya paling besar mengangkat kedua kaki ibu tiriku lalu membuka kedua paha ibu tiriku itu sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah ngaceng, tiba-tiba ibu tiriku menjerit menahan sakit ketika anak itu membenamkan batang kontolnya yang sudah sangat tegang ke dalam memek ibu tiriku.

“Aduuuh……aduuuh…ampuun..sakiit …!” teriak ibu tiriku karena memeknya ditembus oleh kontol anak itu dengan paksa. Secara bergantian satu persatu, dari mereka menyetubuhi ibu tiriku yang tergeletak tak berdaya diatas rerumputan.
Kulihat memek ibu tiriku sudah dibanjiri ole air mani mereka, ada juga yang menyemprotkannya ke muka ibu tiriku, bahkan ada yang meminta ibu tiriku agar mengulumnya sampai air maninya keluar dalam mulut ibu tiriku. Dari mereka ada yang sampai orgasme berulang-ulang lebih dari satu kali.

Kejadian di tengah hutan itu berlangsung kurang lebih tiga jam, karena pada saat mereka meninggalkan kami terlihat matahari sudah mulai terbit. Aku sangat prihatin melihat kondisi tubuh ibu tiriku yang sudah lemas digilir tujuh orang, berulang-ulang sampai pagi. Terlebih lagi bila melihat sekujur tubuhnya yang terlihat licin dilumuri air mani beberapa orang tadi. Akhirnya kami pun kembali ke gubuk dan langsung berkemas pulang ke Jakarta dengan kecewa.

Semenjak kejadian itu aku jadi makin sayang terhadap ibu tiriku, bahkan aku dan ibu tiriku sepakat melupakan kejadian sial itu untuk selama-lamanya.Kini aku hidup tenang serumah dengan ibu tiriku, sebagaimana layaknya suami istri, ibu tiriku tidak sungkan-sungkan lagi mengatakan kepadaku kalau dirinya sangat puas dengan keperkasaanku, bahkan hampir tiap hari aku di buatkan ramuan-ramuan khusus agar lebih jantan lagi saat bersetubuh dengannya.

Tidak kurang dari lima kali dalam sehari aku dan ibu tiriku bersetubuh. Kunikmati terus tubuh ibu tiriku setiap saat aku mau, diapun sangat menikmatinya. Hari demi hari penuh dengan fantasi dalam kehidupan sex aku dengan ibu tiriku, dari mulai yang normal-normal saja sampai dengan hal yang aneh-aneh pun kami lakukan atas kesepakatan berdua demi kepuasanku dan ibu tiriku tentunya.

Setelah dua tahun kami tinggal bersama, ibu tiriku hamil, dia mengandung anak dari benihku, aku dan ibu tiriku sepakat untuk tidak menggugurkan kandungan itu, dan akan merawat anak tersebut dengan baik.
Sembilan bulan berikutnya anakku dari ibu tiriku itupun lahir di sebuah kota yang kuanggap aman dari pandangan orang-orang yang mengenaliku, seorang bayi perempuan normal yang mungil dan kuberi nama Adinda, kamipun menyambut gembira kelahirannya.

Kini Adinda telah menjadi seorang gadis jelita yang berusia sepuluh tahun, dan kami tetap untuk merahasiakan semuanya sampai kapanpun, sampai akhir khayatku bila perlu.

TAMAT

« Ayu Kekasihku
Cerita Si Amin »

Categorized Under

Setengah Baya

About Admin

» has written 192 posts



No Comments


Anti-spam: complete the taskWordPress CAPTCHA